Paus yang mati dan terdampar di pesisir Filipina ini ditemukan dengan perut berisikan 40 kilogram plastik, termasuk dengan plastik belanja dan juga karung beras. Ini termasuk salah satu kasus peracunan paling parah yang pernah para aktivis lihat.

Kelompok aktivis juga menyebut Filipina sebagai penghasil polusi laut terbesar di dunia. Ini karena ketergantungannya masyarakat Filipina pada plastik sekali pakai. Tidak hanya Filipina, namun polusi plastik ini menjadi isu di negara Asia Tenggara lainnya. 

Limbah sampah plastik ini sering membunuh kehidupan laut seperti paus dan juga penyu. Salah satu penyebab kematian paus Cuvier dengan berat 500 kg dan 4,7 meter. Seorang direktur D’ Bone Collector Museum Inc, Darrel Blatchley mengatakan bahwa paus tersebut tidak bisa makan karena sampah memenuhi perutnya.

Paus tersebut mati pada hari Sabtu (16/3) di provinsi Compostela Valley. Menurut biro perikanan pemerintahan setempat, sehari sebelum paus itu mati, ia terdampar di pantai Compostela Valley. Masyarakat setempat kota Mabini berusaha mengembalikan paus ke laut, namun paus itu kembali terdampar di perairan dangkal.

Kasus kematian paus ini terjadi setelah beberapa minggu Global Alliance for Incinerator Alternative merilis laporan yang menunjukkan penggunaan plastik sekali pakai di Filipina, dimana ini hampir mencapai 60 miliar saset plastik petahun.

Sumber :

https://www.voaindonesia.com/a/paus-mati-di-filipina-perutnya-berisikan-40-kg-plastik/4836596.html