Aplikasi Rebake Solusi dari Limbah Makanan di Jepang

Jepang saat ini sedang menghadapi masalah limbah makanan. Menurut Badan Urusan Konsumen Pemerintah Jepang, Jepang memproduksi sekitar 27,59 juta ton limbah makanan setiap tahunnya. Limbah makanan inilah yang menginspirasi Yuya Saito untuk mengembangkan Rebake. Salah satu perusahaan berusaha menangani permasalahan tersebut dengan satu aplikasi di ponsel pintar dan sebuah sepeda.

Rebake telah bekerja sama dengan berbagai toko droti dari berbagai daerah di Jepang. Dari Hokkaido sampai Okinawa. Rebake bertugas untuk membantu mengurangi limbah makanan dengan cara menjual roti yang hampir kedaluwarsa dengan harga diskon. Ini memudahkan warga Jepang yang menjadi penggemar roti sekaligus peduli terhadap lingkungan.

Walau bisnis utama Rebake dilakukan secara online baik melalui situs web maupun aplikasi, namun Rebake juga didirikan di toko-toko sekali seminggu di luar sebuah taman distrik Nakano, Tokyo. Toko ini berupa sepeda kecil dengan gerobak yang membawa semua roti. Roti tersebut dijual dengan harga 1,4 dolar per buah atau sekitar 4,64 dolar per empat roti.

“Saya dengar sepertiga makanan di dunia dibuang. Bahkan di Jepang, bukan hal aneh melihat toko-toko roti membuang sekitar 10 persen roti yang mereka buat. Toko tersebut tidak senang membuang makanan, sehingga saya mulai memulai rebake sebagai cara memecahkan masalah itu,” ungkap Yuya Saito.

Saito mengatakan bahwa “Rebake” bekerja sama dengan warga untuk mengatasi limbah makanan dan juga bisa menunjukkan betapa menyenangkannya hal tersebut. Melaluisitus web maupun aplikasi ponsel, calon pembeli bisa melihat jenis roti yang hampir kedaluwarsa yang ditawarkan toko roti. Roti yang dibeli dijamin masih bagus hingga dua hari setelah pembelian.

 

Sumber :

https://www.voaindonesia.com/a/rebake-cara-menangani-limbah-makanan-di-jepang/5005724.html

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *